7 Cara Merawat Ayam Bangkok Sebelum Diadu
Untuk menjadi ayam bangkok jagoan yang
benar-benar jago, memerlukan waktu yang cukup panjang. Sang calon harus
dilatih terlebih dahulu secara teratur, tak ubahnya para petinju sebelum
resmi naik ring. Latihan ini dimaksud agar si jago menjadi kuat, lincah
dan bertampang atletis.
Pemeliharaan ayam bangkok yang
jago,memerlukan perhatian ekstra, yaitu latihan fisik. Latihan fisik
bagai atlit sejati ini bertujuan untuk mengetahui seberapa tangguhkah
ayam jago kita. Kondisi tubuh yang selalu prima, membuat si jago siap
tempur kapan pun.
1. Latihan Awal
Usia yang paling tepat untuk memasukkan calon
jago ke pusat latihan ialah ketika ia sudah menampakkan tanda kedewasaan.
Misalnya mulai berahi ketika melihat lawan jenisnya, yang cakep tentunya. Masa
akil balig itu biasanya terjadi pada umur 8-9 bulan. lnilah saat yang tepat
untuk mengandangkan sang calon jagoan. Maksudnya. ia harus dimasukkan kandang
tersendiri yang terpisah dari saudara-saudaranya. Pagi hari selama dua jam (jam
8 – 9), ia dijemur di sinar matahari yang hangat. Jago muda yang dijemur saban pagi
ini tidak boleh keluyuran cari makan sendiri, apalagi cari pacar. Karena itu ia
harus dikurung di tengah halaman. Barulah pada sore hari. si jago dikeluarkan
dari kandangnya, dan diberi kebebasan gerak dengan melepaskannya di halaman
tertutup. Kebebasan yang hanya dua jam itu pun, si jago tetap tidak boleh
ditemani ,ayamaduh terutama betina.
Pada tahap awal, ayam jantan ini cukup mendapat
porsi latihan ringan saja. Ini mengingat pada usia itu bulu-bulunya masih muda
(rebung), terutama bulu pada bagian leher dan ekor. Jika dipompa
dengan dosis latihan yang agak berat, dikhawatirkan ia akan kesakitan dan
bulunya rusak. Tapi jangan dikira dengan hanya dijernur, lanlas kurang ada
pertambahan kekuatan badan. Justru penjemuran ini menyebabkan pernapasan
lerlatih. kerja jantung semakin senmpurna, dan tubuh menjadi langsing dan
berisi. Mengapa begitu ? Ceritanya begini : sebelum dijemur, ayam memang harus
dimandikan (dibanyoni) terlebih dahulu. Tubuh yang basah ini secara
otomatis berusaha mengeringkan diri dengan mengeluarkan energi penguapan air.
Energi ini diperoleh dari karbohidrat juga bisa oleh lernak cadangan yang ada
di balik kulit. Dengan begitu proses penjemuran akan mendororong ayam jago
mengurangi kandungan lemaknya. Tentu saja tubuhnya jadi langsing atletis.
Selama dijemur itu pula, tubuh dan bulu-bulunya
berangsur kering. Ini sudah menuntut tenaga ekstra. Oleh sebab itu jangan
heran jika si ayam sering megap-megap mirip habis lari jauh. Napas yang
terengah-engah itu merupakan usahanya untuk memasukkan oksigen semaksimal
mungkin guna membakar lemak (sumber energi itu) untuk mengganti energi yang
hilang selama dijemur. Jadi dengan penjemuran da pembanyonan saban pagi, secara
tidak langsung kita telah memberi tambahan kekuatan kepada jago itu.
2. Cara Mandi
Cara memandikan yang benar tentunya lebih
menunjang usaha kita. Memandikan ayam jago tak ubahnya memandikan bayi
saja. Kita tak boleh begitu saja mengguyuri tubuhnya. Apalagi
menceburkannya ke dalam ember. Kita hanya boleh membasahi bagian bagian
tubuh tertentu saja.
Caranya mudah saja. Cukup dengan air
dingin atau air suam-suam kuku, serta lap bersih atau sepotong karet
busa (spons). lalu kita jongkok. dan ayam dikepit. Kepala ayam agak
ditekan kebawah, lantas air dikucurkan melalui lap (karet busa) yang
diperas ke arah kepala dan muka. Kemudian kepala yang basah itu dilap.
Bagian lain yang perlu dikucuri adalah leher, pangkal sayap, pinggang,
kloaka (lubang pantat), brutu (kelenjar minyak yang terdapat di
ujung punggung). Perlu diperhatikan, ketika mengucuri bagian-bagian
ini, usahakan agar bulu tidak basah. Karena itu bulu nya mesti
disibakkan dulu. Setelah bagian atas ini selesai, menyusul bagian bawah,
yakni dada, paha, dan kaki. Jari jemarinya pun perlu kita bersihkan
dari koloran yang menempel.
3. Menjantur
Tingkat latihan lebih lanjut ialah menjantur. Pada tahap ini, ayam mulai
diberi latihan gerak, walau masih terbatas pada gerak sayap dan kaki.
Namun latihan ini bakal membuahkan hasil ganda. Selain melatih kekuatan
kaki dan sayap. juga pernapasannya terlatih. Menjantur ayam biasanya
sore hari, sebab paginya sudah dijemur. Sebelum latihan dimulai, ayam
pun perlu dibanyoni lagi, diberi makan cukup, serta dilepas dulu
beberapa saat. Sejam kemudian latihan menjantur boleh dimulai. Pegang
pangkal ekor, dan angkat ayam tinggi-tinggi, hingga kepalanya
menggantung ke bawah. Diperlakukan seperti ini, sijago akan mengepakkan
sayapnya dan meronta menggerakkan kedua kakinya. Biarkan kejadian ini
berlangsung semenit atau dua menit. Lantas ayam diturunkan dan biarkan
istirahat sejenak. Kalau perlu, dan kondisi tubuhnya memungkinkan,
latihan bisa diulangi beberapa kali diselingi istirahat.
4. Latihan Renang
Dalam latihan renang, ayam jago tidak cukup mengepakkan
sayap dan menyepakkan kaki saja, tetapi seluruh tubuhnya harus bergerak agar
tidak tenggelam. Latihan berat ini memaksa otot tubuh bekerja keras Meski ayam
adalah unggas yang tak bisa berenang, namun bagi ayam jago hal itu suatu
keharusan.. Otot yang menggumpal keras nampak pada sosok tubuh yang kekar, dan
kekuatannya yang bisa diandalkan. Supaya lebih sip, latihan renang bisa
dilakukan dengan melemparkan ayam ke dalam kolam atau ke tengah kali kecil,
secara berulang-ulang. Pada tahap permulaan, latihan renang cukup diberikan dua
kali seminggu, lalu tiga hari sekali, dan kemudian setiap hari ditambah dengan
porsi 2-3 menit (atau lebih) setiap kali berenang, disesuaikan dengan
kondisi sijago.
5. Latihan Loncat
Tempaan fisik membentuk kekuatanan saja
kurang cukup. Si jago perlu juga diajari bergerak cepat. Ada kemungkinan
sewaktu rnelakukan serangan terhadap musuh, harus dilakukan dengan
loncatan ke udara. Jago yang tidak terlatih, bakal jatuh
terhuyung-huyung begitu menjejakkan kaki di tanah, dan posisi kuda-kuda
yang kurang mantap ini menjadi sasaran empuk serangan lawan.
Latihan menyempurnakan mengambil posisi
kuda-kuda bagi ayam, bisa dengan melempar-lemparkannya ke atas di udara
bebas. Pantat ayam mula-mula kita sangga dengan telapak tangan kiri yang
dibuka lebar-lebar, lalu tangan kanan demikian pula, perlu dibuka lebar
dan ditelentangkan untuk menyangga bagian tembolok. Sesudah itu ayam
diangkat dan dilempar ke atas dalam waktu bersamaan. Ketika melempar,
tangan kanan (bagian tembolok) harus mendapat dorongan yang lebih keras,
sehingga posisi ayam akan terangkat seperti posisi hendak menerjang
lawan yaitu kaki diangkat ke atas.
Mula-mula si jago akan terhuyung-huyung
juga. Tapi lama kelamaan ia bakal jatuh dengan empuk dan siap berlaga
dengan kokoh. Posisi kaki pun dengan sendirinya diperbaiki. Dengan
latihan lempar-lemparan ini, kita mendapat hasil double. Selain latihan
kaki dalam menjaga keseimbangan tubuh, juga latihan menerjang sambil
meloncat. Seperti latihan sebelumnya, latihan loncat ini dilakukan
setahap demi setahap
6. Latihan Leher
Latihan berikut ialah latihan leher, yang hampir mirip latihan loncat.
Caranya dengan mengangkat ayam ke atas juga. Namun yang disangga ialah
bagian pantat (tepat di bawah brutu) dan bagian leher (di bawah kepala).
Waktu mengangkat dilakukan secara bersamaan dan tekanannya pun sama
besar. Pada saat diangkat inilah, otot leher akan menegang. Makin sering
dilakukan, maka urat leher akan keras dan kuat. Leher yang kuat
merupakan salah satu senjata andalan bila terpalaksa bertarung dalam
jarak dekat. Dengan adu leher, si jago bisa merebut posisi menyerang
mematuk bagian belakang kepala lawan. Kemenangan dalam adu leher,
berarti keunggutan dalam mengumpulkan angka pukulan bersih yang
menyakitkan lawan.
7. Latihan Lari
Dengan lari, ayam jadi tambah langsing, tambah lincah, dan pernapasannya
pun tambah kuat. Demikian juga dengan otot-otot tubuhnya. Latihan
dilakukan dengan cara memegang jago yang lain, sedangkan jago kita
dibiarkan bebas di tanah. Lalu kita berlari-lari kecil sambil memancing
agar sang jago mengejar lawan. Tetapi jangan sampai dia sempat mematuk
ayam jago yang sedang kita pegang. Juga jangan sampai si jago salah
sasaran malah mematuk tangan kita, bisa luka berdarah nanti. Selagi si
jago hampir melabrak, segeralah hindarkan tangan kita. Tapi cepat-cepat
dekatkan lagi. Begitu berkali-kali sambil terus jalan mengitari halaman.
Ini dimaksudkan untuk melatih refleks ayam. Begitu lawan mendekat, ia
langsung bereaksi siap menghantam. Latihan semacam ini harap hati-hati,
jangan sampai jago yang kita pegangi menjadi tertekan jiwanya, dan
ketakutan. Ia tak mau berlama-lama jadi bulan-bulanan pameran kekuatan
lawan tanpa sempat mencoba membalas.
8. Latihan Tarung
Ini merupakan latihan tahap akhir. Dengan
memberi kesempatan kepada jago kita untuk sungguh-sungguh menjajal
kekuatan lawan, maka kita pun tahu sampai tingkat mana keunggulan jago
kita. Dalam latihan ini, sebaiknya kedua jago masih tergolong kelas
pemula, jadi setingkat kekuatannya.Dalam
latihan tarung ini, diusahakan agar keduanya tidak rusak baik bulu
maupun kulitnya. Karena itu mula-mula pertarungan secara tertutup saja,
yaitu membalut (dengan plester) paruh, taji (meski masih pendek dan
tumpul), dan jari belakang. Setelah beberapa kali dicoba tarung, dengan
tiap “ronde” paling-paling satu menit saja, maka plester boleh dibuka.
Penutupan bagian-bagian berbahaya dengan
plester, bermaksud melindungi jago dari kemungkinan luka, juga untuk
melatih si jago agar membiasakan diri memukul tanpa mematuk lebih dulu.
Jadi sang jago diberi pelajaran bagaimana memukul tanpa mematuk, supaya
nanti, dalam segala posisi, ia bisa memukul meski tak sempat mematuk
lawan.
Berikutnya meningkat ke latihan bertarung
beneran. Semua plester dibuka kecuali plester taji. Boleh saja taji
dibiarkan terbuka, jika kita hendak mengetahui jago kita jalu
atau tidak. Maksudnya tajinya berfungsi sebagai senjata pemungkas dengan
baik. Tapi jika masih dalam tahap awal, awasilah ketat, jangan sampai
taji terbuka ini menyebabkan lawan terluka parah.
Sebetulnya, tanpa membuka taji, kita bisa tahu apakah jago kita jalu
atau tidak. Bila balutan taji itu berlumuran darah, jelas jago kita
jalu. Sparring partner ini seperti latihan sebelumnya, dilakukan
bertahap juga. Mula-mula satu ronde selama dua menit, lantas ditambah
lagi di hari berikut dengan waktu yang lebih lama sedikit. Sampai
akhirnya mencapai jangka waktu bertarung sebanyonan (15 menit).
Yang perlu kita ingat, latihan tarung ini
tidak seperti latihan yang terdahulu. Berhubung si jago seringkali
benar-benar luka, meski cuma luka ringan saja, maka latihan tarung tidak
boleh dilakukan setiap hari. Paling tidak hanya tiga minggu sekali,
bahkan mungkin sebulan sekali. Ini bisa dimaklumi, karena ayam akan
pulih lagi dari luka-lukanya setelah masa tiga minggu.